::::WILUJEUNG SUMPING DI PK IMM STKIPM BOGOR::::
PK IMM STKIP MUHAMMADIYAH BOGOR

Rabu, 06 Mei 2015


STRUKTURAL KEPENGURUSAN
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
PIMPINAN KOMISARIAT STKIP MUHAMMADIYAH BOGOR
PERIODE TAHUN 2015-2016


Ketua Umum                     : AGUS MUNANDAR
Sekretaris Umum              : RIYAN HIDAYATULLOH
Bendahara Umum             : ISMI KHOERUNNISA

Bidang Organisasi
Brian Wulida Habie
Bidang Media dan Komunikasi
Yuda Bagus Prabowo
Bidang Hikmah
Arfiano
Bidang Kaderisasi
Dewi Rakhmawati
Bidang Tabligh dan kajian Islam
Iyan Andriani
Bidang IMMawati
Gapuraning Rahayu
Bidang Ekonomi dan kewirausahaan
Eva Fauziah
Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan
Dayanti Dzulfah
Bidang Seni,budaya dan Olahraga
M.Irfan Ismail
Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (SOSPEMA)
Garda Candra Lintang

Sekretaris Bidang Organisasi
St.Nurlaela Zannah
Sekretaris Bidang Media dan Komunikasi
Nindy Adela Puspita
Sekretaris Bidang Hikmah
Said Hudri
Sekretaris Bidang Kaderisasi
Ahmad Firdaus Praja
Sekretaris Bidang Tabligh dan kajian Islam
Faruq Bawazzier
Sekretaris Bidang IMMawati
Nur Khitmy Ithriyah
Sekretaris Bidang Ekonomi dan kewirausahaan
Dian
Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan
Muflihanawati
Sekretaris Bidang Seni,budaya dan Olahraga
Janwar Awwaludin
Sekretaris Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
Rafli Hidayah





LYRIK LAGU

Mars Muhammadiyah
(SANG SURYA)
Cipt : H. Djarnawi Hadikusumo

Sang surya tetap bersinar

Syahadat dua melingkar

Warna yang hijau berseri

Membuatku rela hati Menggugah kaum muslimin


Ya Allah Tuhan Rabbiku

Muhammad jungjunganku

Al-Islam agamaku

Muhammadiyah gerakanku


Di timur fajar cerah gemerlapan

Mengusik kabut hitam

Tinggalkan peraduan

Lihatlah matahari telah tinggi

Di ufuk timur sana

Seruan Illahi Rabbi

Sami’na wa atho’na


Ya Allah Tuhan Rabbiku

Muhammad jungjunganku

Al-Islam agamaku

Muhammadiyah gerakanku


Hymne IMM

Semoga Berkah rahmat Illahi
Melimpahi perjuangan kami
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ikhlas beramal dalam bakti

Gemilang Sinar surya
Menyinari fajar harapan
Jayalah… IMM jaya…
Abadi… Perjuangan… kami…


Mars IMM
Cipt : M. Izzul Muslimin

Ayolah……..ayo……ayo…….
Derap derukan langkah
Dan kibar gelaparkan panji-panji
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Sejarah umat telah menuntut bukti

Ingatlah……….ingat……..ingat
Niat tlah diikrarkan
Kitalah cendikiawan berpribadi
Susila cakap takwa kepada Tuhan
Pewaris tampuk pimpinan umat nanti

Immawan……dan Immawati……
Siswa teladan putra harapan
Penyambung hidup generasi
Umat islam seribu zaman
Pendukung cita-cita luhur
Negeri indah adil dan makmur


Selasa, 17 Februari 2015

Kenapa Orang Membenci Muhammadiyah Bagian Pertama

KH. Adang Qomaruddin, BA
Mantan Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Bogor






Kenapa kita harus tahu fenomena hal ini karena kita adalah IMM salah satu ortom Muhammadiyah, dan pasti akan berhadapan dengan hal itu, apabila sebagai mahasiswa IMM kita bungkam dan tak mau merespon maka ironis, lama semakin lama kita akan mental dan menjauh dari muhammadiyah. 



Akan di jabarkan sebanyak 12 poin kenapa orang-orang masih saja ada yang membenci terhadap Muhammadiyah, untuk waktu yang sangat singkat ini mungkin Cuma beberapa poin saja hal yang akan bapak sampaikan, sisanya akan kembali di lanjutkan di pertemuan pekan depan selanjutnya :



1. Mereka belum tahu apa itu Muhammadiyah
Pepatah arab mengatakan bahwa “ manusia itu biasanya memusuhi apa yang mereka tidak ketahui” Pak adang berusaha berbagi, dan juga menjadi penguat apa yang IMMawan dan IMMawati ketahui. Hal demikian hal wajar, sehingga islam mengajurkan kepada umatnya agar sesuatu masalah itu harus di tabayyunkan atau di klarifikasi untuk menjawab sebuah kebenaran.

2. Sebahagian kecil amalan kecil Muhammadiyah berbeda dengan mereka (orang yang membenci Muhammadiyah)

dan itu pun pada hal-hal furuiyyah atau ranting-ranting bukan pada hal-hal ushul (pokok) berbeda dengan syiah, Ahmadiyah, lia eden, permasalahan utamanya yaitu ushuluddin (pokok agama).

Permasalahan furuiyyah yaitu terkait perbedaan ada yang melakukan qunut dan tidak qunut, niat secara di lisankan dan tidak dilisankan. Lalu, muhammadiyah tidak niat pak ? kata siapa? Tentu shalat itu harus niat karena menjadi rukun shalat, akan tetapi muhammadiyah niat cukup dalam hati, karena kalau di lisankan itu bukan niat akan tetapi ucapan, dan rasul hanya mengatakan “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya setiap pekerjaan itu tergantung dengan niat) dan pekerjaan menurut hadits itu umum, mau kepasar, berdagang, juga dalam shalat. Apalagi muhammadiyah melalui putusan tarjih mengambil suatu pernyataan dari hadits yang sangat kuat yang mutawatir. Dan muhammadiyah pun terhadap keempat mazhab sangat memperhatikan apakah kuat atau tidak, membandingkan diantara keempatnya yang paling kuat.

Ataupun bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan, Muhammadiyah berkeyakinan bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan itu tidak membatalkan wudhu, sedangkan yang lain membatalkan wudhu. Dalam surat An-nisa ayat 43 “lamastumun nisa” Muhammadiyah menafsirkan yaitu Bersenggama, tetapi beberapa organisasi yang ada di indonesia menafsirkan “lamastumun nisa” adalah bersentuhan kulit dengan yang bukan mahram. Lalu kenapa Muhammadiyah Menafsirkan “lamastumun nisa” adalah bersenggama pertama, karena Al-quran bukan kitab Porno yang secara prontal terang-terangan menyampaikan. Kedua, buktinya ketika Rasulullah Shalat malam beliau menyingkirkan kaki Aisyah yang menghalangi Sujud Beliau yang sama sekali tanpa terhalang kain pembatas kulit. Kan kalau itu Mahram pak? Bukan..!! istri itu bukan mahram, kalau mahram maka dia tidak boleh di nikahi.

Semua contoh di atas adalah beberapa contoh dari furuiyyah. Adapun ushuluddin ialah menyangkut keyakinan, perbedaan syahadat, meyakini nabi ada 26, rukun iman dan islam yang berbeda, dan meyakini bahwa al-quran tidak lagi otentik itulah yang menjadi permasalah ushuluddin (pokok agama).

Muhammadiyah juga sangat menghargai akal sehingga mencari suatu kebenaran dengan akal, akan tetapi Muhammadiyah tidak mendewakan akal seperti mu’tajillah tetap wahyu yang disampaikan melalui Rasulullah yang paling di utamakan. Dalam alquran banyak sekali membicarakan tentang akal, afala ta'qilun (apakah kalian tak memakai akal) afala yatadabbarun (apakah kalian tak menelaah) afala tatafakkarun (apakah kalian tak berpikir) dan penyebutan akal itu dalam alquran itu bukan sekali ataupun hanya satu ayat akan tetapi berulang –ulang dan tersebar di beberapa ayat. Orang-orang yang masuk neraka adalah mereka yang punya akal tetapi engga menggunakan akalnya untuk mengetahui keesaan Allah, mengetahui bumi dan alam raya adalah kekuasaan-Nya. Dan mempunyai mata enggan untuk melihat sebuah kebenaran, punya telinga enggan untuk mendengar sebuah kebenaran. Perlu di Ingat bahwa Pembeda antara manusia dan makhluk-makhluk lain yang ada di bumi ini adalah Akal.

Kajian Rutin Malam Senin
Senin, 27 Rabiul Akhir 1436 / 16 Februari 2015
Masjid Besar Al-Awwalien Lt. 2
By : IMMawan Dipa Utama

Sabtu, 20 Desember 2014

Darul Arqam Dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Darul Arqam Dasar
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Bogor


Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah STKIP Muhammadiyah Bogor, Insyaallah pada bulan januari mendatang tepatnya tanggal 9-11 Januari 2015 akan mengadakan perkaderan pertama yang di namakan dengan Darul Arqam Dasar (DAD), DAD Adalah sebuah kegiatan pendidikan dan pengkaderan tingkat dasar, meliputi pengenalan keorganisasian, dan tuntunan hidup yang sesuai dengan syariat Islam.. DAD merupakan batu pijakan awal dalam meneruskan perjuangan IMM. Melalui DAD, kita akan berlatih untuk menjadi kader yang menguasai tri kompetensi IMM. Religius, Intelektual, dan Humanis, Kegiatan ini bertujuan menjadikan para kader lebih proaktif terhadap pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dalam segala hal yang karena IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam yang bertujuan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah.


Kamis, 16 Oktober 2014


KOMPOSISI PENGURUS PIMPINAN KOMISARIAT 
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH STKIP MUHAMMADIYAH BOGOR PERIODE 2014 – 2015

Ketua Umum : Hafid Solihin
Ketua Bidang Organisasi : Ika Iqomatul Mar’ah
Ketua Bidang Kader : Rizki Riyanto
Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman : Rus’an Ahmad Fuad
Ketua Bidang IMMawati : Gita Nitami
Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan : Eva Fauziah
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan : Darmawan Muslimianto
Ketua Bidang Hikmah : Enday Hidayat
Ketua Bidang Media dan Komunikasi : Agus Munandar
Ketua Bidang Seni, Budaya dan Olahraga : Brian Wulida Habie

Sekretaris Umum : Dipa utama
Sekretaris Bidang Organisasi : Wilda
Sekretaris Bidang Kader : Maya Juitasari
Sekretaris Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman : Hadia Nurhayati
Sekretaris Bidang IMMawati : Rosmawati
Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan : Qori Fajria Zahra
Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan : Nurlina
Sekretaris Bidang Hikmah : Dede
Sekretaris Bidang Media dan Komunikasi : Leli Mariamdani
Sekretaris Bidang Seni, Budaya dan Olahraga : Maulana Julvikar

Bendahara Umum : Hajjah Nurhasanah

SEJARAH


IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
www.imm.or.id


JEJAK SEJARAH

KELAHIRAN IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah,   dan juga bisa  dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk  memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan.
 Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lainialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102):
1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal,   serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.
2. Terpecah-belahnya umat Islam datam bentuk  saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politikummat Islam yang semakin buruk.
3.Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis
4.Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme
5.Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama  dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler
6.Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan
7.Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan kesyi rikan, serta semakin meningkatnya misionaris- Kristenisasi
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina   mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah  dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya  telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi  Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan  Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar  Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu,Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaba pendidikan tingkat menengah.
  Gagasan pembinaan kader di lingkungan  mahasiswa datam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adatah selaras dengan kehendak  pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan  babwa "dari kallan nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada   Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah, nomor 6  tahun ke-68, Maret || 1988, halaman 19). Dengan   demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah  memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
  Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan  Muhammadiyah cenderung terabaikan, tantaran  Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan   tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah  saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah betum terialu banyak. Dengan demikian, pembinaan kadermahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan metalui Nasyiatul Aisyiyah  (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada  tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hat, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan,sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bias diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah.
Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM betum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat ditihat ketika Lafran Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokob Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.
Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan  mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan metalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atulAisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganak- emaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
 Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang "....menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah."
 Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) iselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
   Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.
   Tiga butan setelah penjajagan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mere,smikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tanggal 29 Syawal 1384 H. atau 14 Maret 1964 M. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan 'Enam Penegasan IMM' oleh KHA. Badawi, yaitu:
1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan  mahasiswa Islam
2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah  adalah landasan perjuangan IMM
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahesiswa dalam Muhammadiyah
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undartg, peraturan,  serta dasar dan falsafah negara
5. Menegaskan bahwa ilmu adalá amaliah dan  amal adalah ilmiah
6. Menegaskan bahwa amal WJA aMah lillahi  ta'ala dan senantiasa diabdWan untuk kepentingan rakyat.

  Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk  akademisi Islam datam rangka metaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102).
 Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adatah sebagai berikut:
1. Turut memelihara martabat dan membela  kejayaan bangsa
2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
3.Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah
4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna  amal usaha Muhammadiyah
5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan
 Dengan berdirinya IMM lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.
 Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11-13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hamper seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMMYogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo.
Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam 'Enam Penegasan IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.

PRINSIP DASAR ORGANISASI

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Tujuan IMM adatah mengusahakan terbentuknyaakademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Dalam mencapai tujuan tersebut, Ikatan  Mahasiswa Muhammadiyah melakukan beberapa  upaya strategis sebagai berikut :
1.   Membina para anggota menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat,
 dan kader bangsa, yang senantiasa setia  terhadap keyakinan dan cita-citanya.
2.Membina para anggotanya untuk selalu tertib  dalam ibadah, tekun dalam studi, dan  mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk  melaksanakan ketaqwaannya dan pengab diannya kepada allah SWT.
3.Membantu para anggota khusus dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat, mengefektifkan dan menggembirakan dakwah Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat khususnya masyarakat mahasiswa.
5. Segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam Republik Indonesia.

JARINGAN STRUKTURAL IMM
Susunan organisasi IMM dibuat   secara  berjenjang dari tingkat Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan  Komisariat. Dewan Pimpinan Pusat adatah tingkat  pimpinan tertinggi di IMM yang menjangkau ruang lingkup nasional. Dewan Pimpinan Daerah adatah pimpinan organisasi yang menjangkau suatu kesatuan wilayah tertentu yang terdiri dari cabang-cabang IMM. Pimpinan Cabang adalah pimpinan organisasi yang menjangkau satu kesatuan komisariat IMM. Komisariat IMM adatah kesatuan anggota-anggota IMM dalam sebuah perguruan tinggi atau kelompok tertentu. Saat ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

PROGRAM KERJA
Secara umum program kerja IMM dilaksanakan untuk memantapkan eksistensi organisasi demi  mencapai tujuannya, "mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah" (AD IMM Pasal 6). Untuk menunjang pencapaian tujuan IMM tersebut, maka perencanaan dan pelaksanaan  program kerja diorientasikan bagi terbentuknya  profil kader IMM yang memiliki kompetensi dasar  aqidah, kompetensi dasar intelektual, dan  kompetensi dasar humanitas. Sebagai organisasi yang      bergerak       di     bidang     keagamaan,  kemasyarakatan, dan kemahasiswaan, maka  program kerja IMM pada dasarnya tidak bisa lepas  dari tiga bidang garapan tersebut. Perencanaan dan  pelaksanaan program kerja tersebut memiliki  stressing yang berbeda-beda (berurutan dan saling  menunjang) pada masing-masing level  kepemimpinan.
 *     Di tingkat Komisariat: kemahasiswaan, perkaderan,keorganisasian,kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Cabang: Perkaderan, kemahasiswaan, keorganisasian, kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Daerah: keorganisasian, kemasyarakatan, perkaderan, kemahasiswaan.
 *     Di tingkat Pusat: Kemasyarakatan, keorganisasian, perkaderan, kemahasiswaan.
 Berkaitan dengan program kerja jangka panjang, maka sasaran utamanya diarahkan pada upaya perumusan visi dan peran sosial politik IMM memasuki abad XXI. Hal ini tidak lepas dari ikhtiar  untuk memantapkan eksistensi IMM demi tercapainya tujuan organisasi (lihat AD IMM Pasal 6). Sasaran utama dan program jangka panjang ini  merujuk pada dan melanjutkan prioritas program yang telah diputuskan pada Muktamar Vll IMM di  Purwokerto (1992). Program dimaksud menetapkan  strategi pembinaan dan pengembangan organisasi  secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan  selama Lima periode Muktamar IMM.
 Periode Muktamar IX diarahkan pada  pemantapan konsolidasi internal (organisasi,  pimpinan, dan program) dengan meningkatkan  upaya pembangunan kualitas institusional dan  pemantapan mekanisme kaderisasi dalam menghadapi perkembangan situasi sosial politik  nasional yang semakin dinamis. Periode Muktamar  X diarahkan pada penguatan orientasi kekaderan  dengan meningkatkan mutu sumber daya kader  sebagai penopang utama kekuatan organisasi  datam transformasi sosial masyarakat. Periode  Muktamar XI diarahkan pada penguatan peran  institusi organisasi baik secara internal (pelopor,  pelangsung, dan penyempurna gerakan pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah) maupun eksternal  (kader umat dan kader bangsa).
  Periode Muktamar XII diarahkan pada pemantapan peran IMM dalam wilayah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memasuki era globalisasi yang lebih luas. Periode Muktamar XIll diarahkan pada pemberdayaan institusi organisasi serta pemantapan peranan IMM dalam kehidupan sosial politik bangsa.
Kemudian pelaksanaan program jangka panjang itu memiliki sasaran khusus pada masing-masing bidangnya. Bidang Organisasi diarahkan pada terciptanya struktur dan fungsi organisasi serta mekanisme kepemimpinan yang mantap dan mendukung gerak IMM dalam mencapai tujuannya. Program konsolidasi gerakan IMM juga diarahkan bagi terciptanya kekuatan gerak IMM baik ke datam maupun ke luar sebagai modal penggerak bagi pengembangan gerakan IMM.
Bidang Kaderisasi diarahkan pada penguatan tiga kompetensi dasar kader IMM (aqidah, intelektual, dan humanitas) yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai agen pelaku perubahan sosial bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diarahkan pada pembangunan budaya iptek dan penguatan paradigma ilmu yang melandasi setiap agenda dan aksi gerakan IMMdalam menyikapi tantangan zaman.
       Bidang Hikmah diarahkan pada penguatan peran sosial politik IMM di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam peran serta dan partisipasi sosial politik generasi muda (mahasiswa). Bidang Sosial Ekonomi diarahkan pada penumbuhkembangan budaya dan wawasan wiraswasta di lingkungan IMM, terutama dalam membangun dan memberdayakan potensi ekonomi kerakyatan. Bidang Immawati diarahkan pada upaya penguatan jati diri dan peran aktif sumber daya kader puteri IMM dalam transformasi social menuju masyarakat utama.